Diambil dari ( 1 Raja-raja 5:14 ) yang berkata: Ia menyuruh mereka ke Libanon, sepuluh ribu orang dalam sebulan berganti-ganti: selama sebulan mereka ada di Libanon, selama dua bulan di rumah.


Seorang anak memperhatikan ibunya mencincang daging. Ibu itu berjualan makanan, jadi banyak daging perlu dicincang. Tiba-tiba sang ibu berhenti. Rupanya beliau mau mengasah pisau. Anaknya menanya “Kalau ibu mengasah pisau, bukankah nanti pekerjaan ibu makin lama selesai?” Kau salah, nak. Jawab sang ibu sambil tersenyum, “Mengasah pisau justru membuat ibu dapat mencincang lebih cepat.” Sebuah pisau tidak dapat terus digunakan tanpa diasah. Jika dipaksakan, hasilnya tidak akan maksimal. Pisau tumpul membuat beban pekerjaan semakin berat. Tubuh kita ibarat sebuah pisau. Tidak dapat kita terus beraktivitas tanpa beristirahat.

Salomo ialah seorang raja yang sangat bijaksana. Kebijaksanaannya dibuktikan ketika mengerahkan orang Israel untuk bekerja mendirikan Bait Suci. Salomo membagi para pekerja yang berjumlah tiga puluh ribu ke dalam tiga kelompok untuk bergantian bekerja. Jadi selama sebulan mereka bekerja di gunung Libanon, dua bulan lagi mereka tinggal di rumah. Metode tersebut Salomo terapkan karena ia menyadari para pekerja perlu “Mengasah Pisau”. Dalam arti mereka perlu memulihkan tenaga dan menyegarkan pikiran.
Hasil metode pilihan Salomo sungguh menakjubkan! Sehingga bait Allah yang megah selesai dalam waktu relatif singkat, yakni 7 tahun (1 Raja-raja, 6:38).

Salomo mengajarkan kita bahwa jangan hanya terus mencincang, asahlah “Pisau” milik kita! Tidak juga hanya terus bekerja, luangkan cukup waktu pula untuk beristirahat. Beristirahat bukan membuang waktu, namun justru cara mengefektifkan waktu. Beristirahat akan membuat badan kembali bugar dan pikiran kembali segar. Alhasil kita mampu bekerja secara maksimal.

Giat Bekerja Itu Bagus, Namun Setidaknya Diimbangi juga Dengan Cukup Beristirahat.